Monday, June 2, 2014

Seindah Maharmu

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani



إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ بِاللهِ  مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ
.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Seorang isteri memiliki hak yang bersifat materi (maliyyah), yaitu maskawin (mahar) dan nafkah. Dan hak yang bersifat immateri (ghairu maliyyah), yaitu jalinan kehidupan rumah tangga dan kehidupan sosial yang baik dan keadilan.


Dalam al-Qur’an ditegaskan :

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً (النساء: 4)
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa’, 4 : 4)


فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً (النساء: 24)
“Berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa’, 4 : 24)

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا خَطَبْتُ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ لَكَ مِنْ مَهْرٍ؟(السنن الكبرى للبيهقي 7/ 414)
“Sesungguhnyaq Ali ra., pernah berkata, “Sewaktu aku meminang Fatimah ra., putri Nabi saw, Nabi saw bertanya, “Apakah kamu memiliki mahar ?” (Al-Baihaqi, As-Sunanu al-Kubra, 7 : 414)

 Terdapat 10 nama maskawin : mahar, shadaq (shadaqah), nihlah, ajr, faridhah, hibba’, ‘uqr, ‘ala’iq, thaul, dan nikah. Dari kesepuluh nama ini yang popular di kalangan fuqaha’ (ahli fiqih) adalah mahar dan shadaq. Pada prinsipnya mahar adalah li ikrami al-mar’ah  wa ar-rughbati fi al-iqtiran (untuk kehormatan isteri dan kesungguhan dalam menjalin rumah tangga).

Sudahkah calon mempelai lelaki dengan maharnya? Tentu sudah mempersiapkannya. Baik. Jika belum,berarti Saudara masih dipertanyakan oleh pihak calon mempelai wanita beserta keluarganya. Adakah kita bersungguh-sungguh untuk mendirikan rumah tangga dan menghormati isteri?. Atau tidak perlu dilanjutkan akad ini ?. Sudah pasti tidak, kerana sudah jelas mempelai sudah menyiapkan segala maharnya.

Mahar dari segi bahasa terdiri dari huruf mim-ha-ra dan dibaca ma-ha-ra, mah-ran, mu-huu-ran, ma-haa-ran, ma-haa-ra-tan, yang membawa maksud pandai.Maka maa-hir, artinya orang yang pandai.Dari segi bahasa ini dapat kita fahami hikmahnya bahawa seorang isteri harus pandai menempatkan dirinya sebagai orang yang dihormati dan seorang suami pula pandai menghormati isterinya.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sedangkan bentuk dan nilai mas kahwin itu ditentukan oleh pihak isteri,baik diri wanita itu atau pun walinya. Dan tidak ada ketentuan dari Islam untuk membatasi besar dan nilainya. Semua akan berpulang kepada pihak wanita atau juga adat dan kebiasaan yang terjadi di suatu tempat/negeri. Dan sebagai syarat dari pernikahan, maka pihak wanita berhak untuk menentukan besar dan nilainya itu sementara pihak calon barakatuhsuami harus memenuhinya sesuai dengan permintaan pihak wanita.

Hanya saja Islam tidak menganjurkan untuk memperberat mahar itu karena perkara ini boleh menyusahkan pihak lelaki. Di zaman Rasulullah SAW ada wanita yang rela dinikahkan dengan mahar seadanya, yang penting memiliki nilai meski tidak besar. Dalam penetapan berapakah mahar yang sesuai serta nilainya, para ulama mempunyai pendapat yang berbeza. Hal itu terjadi lantaran banyak dalil dan keterangan yang berbeza sejak dari Rasulullah SAW sendiri. Di antara dalil-dalil tentang besar dan bentuk mahar, adalah daripada hadits berikut ini:

Dari Amir bin Rubai'ah bahwa soerang wanita dari Bani Fazarah dinikahi dengan mahar berupa sandal. Maka Rasulullah SAW bertanya,"Apakah kamu rela dinikahi dengan mahar sandal?." Wanita itu menjawab,"Ya." Maka rasulullah membolehkannya.

Diriwayatkan dari Sahal bin Saad bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW minta dinikahkan. Namun laki-laki yang akan menikahinya tidak memiliki harta apa-apa. Rasulullah SAW bertanya,"Apakah kamu memiliki sesuatu yang boleh kamu jadikan mahar untuknya?." Orang itu menjawab,"Saya hanya punya satu sarung ini saja." Nabi berkata, bila kamu berikan sarungmu itu kamu tidak punya sarung lagi." Berikan sesuatu walaupun hanya cincin dari besi." Orang itu menjawab lagi. "Saya benar-benar tidak punya apa-apa." Maka Nabi berkata,"Apakah kamu hafal barang sesuatu dari ayat Al-Qur'an?." "Ya, saya hafal surah surah berikut." Nabi bersabda,"Aku telah nikahkan kamu dengan apa yang kamu hafaldari Al-Qur'an." (HR Bukhari dan Muslim).
 Dalam riwayat lain disebutkan bahwa nabi memerintakan untuk mengajari isteri membaca Al-Qur'an. Dan dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwajumlah ayat yang diajarkannya itu sekitar 20-an ayat.
"Ajarilah istrimu itu Al-Qur'an."

Dari Anas bahwa Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim, lalu Ummu Sulaim berkata,"Demi Allah, laki-laki seperti anda tidak mungkin ditolak pinangannya, namun anda masih kafir sedangkan saya wanita muslimah,tidak halal bagi saya menikah dengan anda. Namun bila anda masuk Islam,maka ke-Islaman anda itu menjadi mahar dan saya tidak minta selain itu.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Bila meniliti hadits-hadith di atas, maka dibolehkan mahar itu berbentuk sesuatu yang memiliki manfaat dan faedah. Seperti ilmu yang diajarkan, keislaman (proses masuk Islamnya suami), bacaan Al-Qur'an dan sejenisnya. Karena mahar itu hak istri, bila dia rela menerima hal itu, maka cukuplah halitu menjadi mahar. Adapun mengenai batas-batasnya, mahar tidak mempunyai batasan. Suami boleh memberikan mas kahwin kepada isterinya berapa pun jumlahnya sesuai dengan kemampuan suami        .

Tetapi walaupun demikian, agama tetap menganjurkan untuk mempermudah hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin seperti yang tertera dalam sabda Rasulullah:
"Sesungguhnya wanita yang paling banyak berkahnya adalah wanita yang paling sedikit/murah mas kawinnya."
 Para ulama dahulu mempunyai perbezaan pendapat dalam menentukan kadar minimal mas kahwin:



  1. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mas kahwin minimal senilai 3 dirham. Mereka mengkiaskan (menyamakan) hal ini dengan wajibnya potong tangan bagi pencuri ketika barang curiannya bernilai 3 dirham atau lebih.                                                                                                          
  2. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mas kawin paling sedikit 10 dirham atau dengan yang senilainya. Ini berlandaskan bahwa Nabi membayar mas kahwin para isterinya tidak pernah kurang dari 10 dirham.                                                                                                                        
  3. Ulama Syafi'iah dan Hanbaliyah berpendapat, tidak ada batas minimal, yang penting bahwa sesuatu itu bernilai atau berharga maka sah (layak) untuk dijadikan mas kawin (termasuk seperangkat alat solat). Golongan ketiga ini mendasarkan pendapatnya pada  
    "Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian (wanita yang telah disebutkan dalam ayat 23-24 surah al-Nisa'), yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk dizinai" (surah al-Nisa' : 24).
Hadits Rasulullah yang berbunyi : "iltamis walau khaataman min hadid" ("Berikanlah mas kawin walaupun hanya sebuah cincin yang terbuat dari besi). Selengkapnya hadits ini adalah sebuah kisah: suatu saat Nabi didatangi seorang perempuan yang menginginkan agar Nabi berkenan menikahinya. "Saya pasrahkan diri saya pada ya Rasulullah", kata si perempuan.
Pada saat itulah datang seorang sahabat dan memberanikan diri menyatakan kepada Nabi,

"Wahai Rasulullah, jika lelaki itu tidak berkenan menikahinya, nikahkan saja perempuan itu denganku".
"Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dijadikan maharnya?"
"Saya tidak mempunya apa-apa kecuali kain sarung saya ini".
"Sarungmu?!. Lantas kamu nanti mau pakai apa jika sarung itu kamu jadikan mahar? Carilah sesuatu".
"Sama sekali saya tak punya apa-apa".
"Carilah, walau hanya cincin besi".
Lelaki tadi lantas mencari-cari, namun memang dia tak punya apa-apa. Lalu kata Nabi:
"Apakah kamu hafal beberapa (surat) dari al-Qur'an?".
"Oh ya, surat ini dan surat ini", dia mengatakan surat-surat yang dihafalnya. Maka lantas Nabi menikahkan mereka, "Saya nikahkan kamu dengan perempuan itu dengan mahar apa yang kamu hafal dari al-Qur'an".

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Jelaslah disini, bahawa mahar itu tidak ada batasannya. Apapun bentuknya, berapapun jumlahnya, sampai barang yang paling sederhana sekali, bahkan berupa bacaan al-Qur'an, yang penting bernilai dan berharga, maka sah (layak) dijadikan mahar. Dan pendapat yang terakhir inilah yang paling mendapat keberkatan.
Berikanlah mahar itu sebagai tanda penghargaan buat si isteri pada hari pertama menikahinya.


Wallahu a'lam bish-shawab.


Khutbah posted by:
Wardah
Group Members:
  • Nor Izatie Binti Mohamad Nadry (Leader) (CA11102)
  • Muna Shafawati Binti Yusoff (CB11078)
  • Nurul Effadah Binti Mohd Yusof (CB11081)
  • Ilyani Binti Isa (CB12101)
  • Nur Nadiah Naim Binti Abdul Rahman (CB12100)
  • Nor Hasnida Binti Ibrahim (CB11084)
  • Mardiah Binti Johari (CB12005)
  • Alawiyyah Binti Mely (CB12009)
  • Nurul Amirah Binti Anuar (CD13085)
  • Mawaddah Hasliana Binti Mohd Husni (CD13084)

No comments:

Post a Comment